Sosok Menteri Susi Pudjiastuti memang sudah tidak asing lagi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Wanita nyentrik yang menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan ini memang terkenal karena sikapnya yang tegas dan tak pandang bulu.

Namun, beberapa waktu lalu Menteri Susi menghebohkan netizen dengan mengunggah fotonya sedang asik mengupil di Gedung DPR.

Melalui akun Twitter-nya @susipudjiastuti, ia mengunggah foto mengupil berikut caption yang bertulis: “Lagi asyik .. ehhh ketangkep camera…tapi sy pikir ini keren daripada B T.”

 Perempuan memasukkan jari ke hidung

Sontak netizen pun ramai memberikan cuitannya terhadap aksi yang dilakukan oleh menteri yang satu ini. Pasalnya mengupil kerap menjadi sesuatu yang menjijikkan dan memalukan.

Namun jika dilihat dari sisi medis, apakah kegiatan mengupil seperti yang dilakukan oleh Menteri Susi ini aman untuk dilakukan? Melansir dari Welland Good, Jumat(6/9/2019), seorang ahli penyakit dalam sekaligus pencernaan asal New York City, dr. Niket Sonpal,MD mengatakan bahwa mengupil tentu saja tidak disarankan oleh dokter.

Meski demikian, kegiatan mengupil ternyata memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah untuk membersihkan hidung dari kotoran. Dengan mengupil maka kotoran akan terbuang dan membuka jalan menuju bagian belakang hidung dan tenggorokan. Dokter Sonpal pun secara pribadi mengatakan mengupil bisa menjadi salah satu alternatif yang baik untuk dilakukan.

“Ingus Anda pada dasarnya merupakan kotoran yang dihirup termasuk debu dan kuman di dalamnya. Jika Anda tidak membersihkan lubang hidung dengan meniup atau mengupil, maka lendir kering akan bergerak ke bagian depan hidung yang menutup jalan masuk oksigen yang dihirup,” tuturnya.

Namun, kebiasaan mengupil ini bisa berdampak buruk bagi seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah. Dokter Sonpal menjelaskan meski mengupil tidak selalu buruk, namun kegiatan ini bukanlah sebuah kebiasaan yang sehat. Pasalnya jika tidak dilakukan dengan hati-hati, maka jari yang masuk bisa menyebabkan luka di dalam hidung.

“Saat Anda mengupil, kuku menyebabkan lecet halus pada rongga dalam hidung. Lecet tersebut menyebabkan celah pada kulit yang bisa menjadi pintu bagi bakteri berbahaya penyebab infeksi dalam hidung,” lanjut dr. Sonpal.

Dokter Sonpal menambahkan sebuah penelitian di Universitas Cambridge menemukan orang gemar mengupil secara signifikan lebih berpotensi mengalami Staphylococcus Aureus. Bakteri ini merupakan penyebab utama infeksi kulit dan jaringan lunak.

 Anak-anak memasukkan jari ke hidung

Tak hanya infeksi bakteri, beberapa risiko lain yang ditimbulkan dari kebiasaan mengupil adalah mimisan (pendarahan hidung) yang biasanya dialami oleh anak-anak. Pembuluh darah halus yang dimiliki oleh anak menjadi salah satu alasan utama mengapa hal ini bisa terjadi.

“Pengambilan kotoran dapan merusak pembuluh darah sementara kuku yang menggaruk dapat menyebabkan luka pada saluran hidung,” sambungnya.

Pada kasus tertentu ada risiko yang paling buruk yakni kerusakan septum yang merupakan tulang rawan yang berada di tengah hidung. Tulang ini memisahkan antara lubang hidung kiri dan kanan.

“Jika Anda mengupil secara konsisten makan akan merusak septum atau bisa membuatnya berlubang. Ini bisa menimbulkan beberapa efek samping yang tidak diinginkan seperti pembentukkan kerak di sekitar hidung dan suara siulan saat Anda bernapas,” terang dr. Sonpal.

Jika memang hidung telah kotor dan terasa gatal, maka selain mengupil mencuci hidung merupakan pilihan yang paling tepat untuk dilakukan. Cara ini dinilai lebih efektif dan tidak akan merusakan komponen pada bagian dalam hidung.

“Mencuci hidung adalah cara untuk membersihkan saluran hidung dan rongga sinus. Anda bisa menembakkan larutan garam bilas ke hidung untuk benar-benar membersihkan semua ingun yang bermasalah,” imbuhnya.

Di sisi lain dr. Sonpal juga membagikan tips yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi terjadinya pembentukan ingus. Salah satunya adalah menjaga kelembapan di dalam rumah. Semakin bersih hidung, tentu akan membuat Anda tidak perlu repot untuk membersihkannya.

“Jaga kelembapan di rumah Anda sebesar 55 persen, hindari karpet sehungga bisa mengurangi kontak dengan allergen, bersihkan rumah Anda secara teratur sehingga tidak menimbulkan penumpukan debu dan hindari konsumsi rokok maupun paparan asap rokok,” tuntasnya.

ori