Twitter telah memblokir sementara akun-akun kelompok oposisi terkemuka Iran dan sejumlah pendukungnya yang berkantor di Amerika karena diduga melanggar aturan Twitter. Hal ini menandai intervensi terbaru Twitter dalam perseteruan di dunia maya antara kelompok yang mendukung dan menentang pemerintah Iran.

Akun Twitter Organisasi Komunitas Amerika-Iran OIAC, sebuah kelompok LSM yang mendukung apa yang disebut rakyat Iran sebagai “perjuangan demi perubahan demokratis” dan “pemerintah non-nuklir,” Rabu lalu (6/11) diblokir dan tetap tidak berfungsi hingga dipulihkan Jumat ini (8/11). OIAC memiliki lebih dari 6.000 followers atau pengikut.

@IAC baru mengetahui bahwa akunnya diblokir ketika sedang mengadakan pertemuan di Dirksen Senate Office Building di Washington DC Rabu lalu untuk membahas apa yang disebutnya sebagai “peningkatan penindasan domestik dan agresi regional oleh Iran.”

Senator faksi Republik Ted Cruz dan John Boozman ikut menghadiri acara itu.

@IAC bersekutu dengan gerakan pembangkang Iran “Mujahedin-e-Khalq” MEK yang memimpin Dewan Nasional Perlawanan Iran NCRI yang berkantor di Perancis dan berjuang untuk “menggulingkan kediktatoran agama” di Iran. Sejumlah ulama Islamis telah memimpin negara itu sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Dua pendukung OIAC dan MEK yang berkantor di San Fransisco mengatakan kepada VOA bahwa akun Twitter mereka juga diblokir Rabu lalu. Akun Peymaneh Shafi, seorang pakar teknik informasi, hingga hari Jum’at masih diblokir, sementara akun temannya – Shanaz – yang menolak menyebut nama belakangnya demi alasan privasi, sempat diblokir Kamis pagi (7/11) dan baru aktif kembali pada siang hari.

Juni lalu Twitter mengumumkan pemblokiran 4.779 akun yang ada di Iran dan terlibat dalam upaya mendukung pemerintah secara terkoordinasi untuk melanggar fungsi layanan Twitter dan mengganggu “diskursus yang sehat.” Ditambahkan bahwa 2.865 dari akun yang diblokir itu “mempekerjakan sejumlah karakter (personas?) untuk menarget pembicaraan tentang isu politik dan sosial di Iran dan dunia.”

Twitter menolak permohonan VOA untuk menanggapi pemblokiran akun-akun pro-MEK dan aturan apa yang dinilai telah dilanggar.

Aturan perusahaan itu melarang sejumlah perilaku, termasuk terlibat dalam spam. (em/pp)


sumber