Menahan kencing tentu sangat tidak nyaman. Namun hal itulah yang terjadi pada wanita satu ini. Ia harus menahan hasratnya untuk buang air kecil selama perjalanan udara. Hal ini ia lakukan setelah sang petugas kabin melarangnya masuk toilet pesawat.

Seperti diketahui, kebiasaan menahan kencing bukanlah sebuah hal yang baik. Seseorang akan berpotensi mengalami infeksi saluran kemih (ISK). Meskipun berbahaya namun para pramugari tetap menolak wanita tersebut menggunakan toilet pesawat.

Alhasil wanita tersebut harus kencing di celana setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam. Semuanya diakibatkan oleh pramugari yang melarangnya. Diperkirakan wanita yang enggan disebutkan namanya itu hendak melakukan perjalanan dari Dublin ke Bogota menggunakan Air Canada bulan lalu.

 Toilet

Ternyata pesawat yang ditumpangi wanita berusia 26 tahun tersebut melakukan penerbangan transit (penerbangan penghubung) dari Bogota ke Toronto. Sayangnya penerbangan ditunda selama dua jam sebelum akhirnya lepas landas.

Selama menunggu dua jam, wanita berusia 26 tahun itu mencoba bertanya kepada awak kabin apakah dia bisa menggunakan toilet pesawat. Setiap kali beberapa kali bertanya, ia diberi tahu dengan tegas bahwa toilet tidak bisa digunakan dan diminta untuk kembali ke kursinya.

“Saya bertanya empat kali selama dua jam apakah saya bisa menggunakan toilet pesawat? Awak kabin mengatakan bahwa toilet itu hanya dikondisikan dalam keadaan darurat dan saya akan mengalami kecelakaan jika mereka tidak membiarkan saya menggunakan toilet,” tutur wanita tersebut, melansir dari World of Buzz, Jumat (4/10/2019).

Karena tidak memiliki pilihan lain, wanita itu pun akhirnya tidak kuat dan mengompol di bangku pesawat. Ia juga diduk di atasnya selama tujuh jam sampai tiba di Toronto.

 Penumpang

“Saya benar-benar dipermalukan dan tampak kesal. Awak kabin mengabaikan saya selama sisa penerbangan,” lanjut wanita itu.

Ketika wanita itu meninggalkan pesawat, ia akhirnya mencoba mencari anggota kru kabin untuk memberi tahu betapa jijiknya cara mereka memperlakukan tamunya. Selama jeda antara penerbangannya, wanita itu harus menyewa kamar hotel sehingga bisa mandi dan mengganti pakaiannya.

Ketika dia sampai di Dublin, wanita itu mengajukan keluhan dengan Air Canada, dan ia mengatakan bahwa staf harus membiarkannya menggunakan toilet. Untuk menebus kesalahan para staffnya, pihak maskapai memberi wanita itu voucher senilai USD 500 Kanada atau setara Rp7 juta.

Meski demikian wanita yang telah geram itu mengatakan bahwa permintaan maaf mereka tidak cukup. Terlebih para staf yang secara langsung mempermalukannya dibebaskan tanpa hukuman. Alhasil wanita ini tidak akan menggunakan voucher tersebut sebagai biaya ganti ruginya.

ori