Epidemi campak terburuk di Amerika dalam 27 tahun kemungkinan kini dalam tahap akhir karena tidak dilaporkan ada kasus baru dalam sepekan terakhir.

“Tidak ada kasus lagi sangatlah menggembirakan,” ujar Jason Schwartz, pakar kebijakan vaksinasi pada Yale University.

Epidemi campak yang saat ini melanda Amerika dimulai sekitar setahun lalu dan memuncak awal tahun ini, dengan sebagian besar kasus dilaporkan di komunitas Yahudi Ortodoks di, dan sekitar, New York City. Epidemi itu bermula dari orang Amerika yang bepergian ke luar negeri dan tertular campak. Ia dengan cepat kemudian menularkan penyakit itu ke kalangan orang yang tidak divaksinasi.

Pada musim semi lalu, mulai akhir Maret sampai akhir Juni, 70 atau lebih kasus baru dilaporkan setiap minggu. Belum lama ini, Amerika mencatat banyak kasus campak dalam setahun penuh.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika – Center for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan hari Senin, sejauh tahun ini, 1.241 kasus dikukuhkan. Jumlah itu tidak bertambah pekan lalu. Terakhir kali CDC melaporkan tidak ada kasus campak baru adalah 11 bulan lalu.

Pejabat-pejabat New York menanggapi ledakan kasus campak dengan sejumlah tindakan, termasuk kampanye pendidikan untuk melawan informasi yang salah tentang keamanan vaksin dan menerapkan denda bagi orang yang tidak mendapatkan vaksinasi.

Epidemi itu mengancam status Amerika yang hampir 20 tahun ini dinyatakan sebagai negara yang telah memberantas campak. Status itu akan berakhir jika penyakit itu menyebar di kalangan orang Amerika selama satu tahun atau lebih. Negara-negara lain, termasuk Yunani dan Inggris, baru-baru ini kehilangan status itu seiring melonjaknya jumlah penderita penyakit itu.

Wabah campak biasanya dinyatakan berakhir setelah 42 hari berlalu tanpa muncul pasien baru. Jika tidak ada kasus baru yang muncul, wabah nasional itu kemungkinan akan berakhir pada atau sekitar 30 September, tepat sebelum pejabat-pejabat harus membuat keputusan mengenai status pemberantasan campak di Amerika.

Kalau Amerika kehilangan status eliminasi, ini bisa memengaruhi kampanye vaksinasi campak di negara-negara lain, ujar Dr. William Schaffner, pakar vaksin dari Vanderbilt University.

Menteri-menteri kesehatan di seluruh dunia mungkin akan bertanya, “Mengapa kita harus mempertahankan status bebas eliminasi? Cukup lakukan yang terbaik untuk mengendalikan campak, tetapi kita tidak akan lagi bekerja keras untuk mencapai nol,” kata Schaffner.(ka/jm)

ori