Paus Fransiskus, Rabu (4/9) disambut puluhan ribu warga Mozambik yang bersemangat, termasuk Presiden Filipe Nyusi, ketika ia memulai lawatan pertamanya ke negara di Afrika selatan itu. Paus mengatakan ia membawa pesan perdamaian ke negara itu, yang didera perang saudara dan konflik selama puluhan tahun.

Damai adalah pesan utama Paus ketika ia memulai lawatan ke tiga negara Afrika, dimulai di ibu kota Mozambik, Maputo. Dalam pesan yang direkam sebelum kedatangannya, Paus Fransiskus berbicara kepada rakyat Mozambik dalam bahasa yang dominan di negara itu, Portugis.

“Saya tidak sabar bertemu kalian,” ujar Paus. “Saya mendoakan kalian semua. Saya mengajak kalian semua bersama-sama berdoa agar Tuhan merekonsiliasi persaudaraan di Mozambik dan di seluruh Afrika, yang merupakan satu-satunya harapan bagi perdamaian yang kekal dan abadi.”

Itu pesan yang kuat, menurut orang-orang Mozambik, terutama setelah perjanjian damai baru-baru ini untuk mengakhiri kekerasan selama puluhan tahun pasca perang saudara selama 16 tahun.

Namun, keretakan mulai muncul dalam kesepakatan yang rapuh itu. Anggota partai Renamo yang beroposisi menuduh anggota partai Frelimo yang berkuasa menyerang anggota mereka di pedesaan Mozambik. Keduanya adalah pihak yang bertempur dalam perang saudara.

Dalam kunjungan tiga hari, Paus akan bertemu anggota parlemen, pemuda dan pendeta. Pastor Giorgio Ferretti dari Katedral Maputo, mengatakan ia juga berharap Paus mengatasi tantangan besar lain yang dihadapi Mozambik.

“Kita tahu ia akan berbicara tentang orang miskin, tentang lingkungan, tentang perdamaian, tentang persaudaraan universal, tetapi tidak dengan cara yang sederhana, melainkan dengan kata-kata rohaninya sendiri. Itulah yang kami inginkan, dan yang ingin kami dengar,” jelasnya.

Di Maputo, ibu kota di tepi pantai yang cerah, semua tampak tenang, beberapa jam sebelum Paus mendarat.

Setelah Mozambik, Paus akan melanjutkan lawatan ke kepulauan Madagaskar dan Mauritius. Paus juga mengirim pesan video kepada mereka. Ia berbicara dalam bahasa Italia kepada orang-orang Mauritius, yang berbicara bahasa Inggris, Prancis, Creole dan Hindi dan kepada orang-orang Malagasi, yang berbicara bahasa Prancis dan Malagasi.

Itu karena, katanya, bahasa Italia dalam kitab Injil adalah bahasa cinta.[ka/ii]

sumber