JAYAPURA – Pemerintah Kota Jayapura terus berupaya mencegah terjadinya konflik horizontal yang bisa mengganggu kerukunan hidup terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di masyarakat. Semua pihak pun diminta tidak begitu saja percaya hoaks yang bisa mengusik kerukunan.

Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano mengatakan, pasca-kerusuhan melanda ibu kota Papua beberapa waktu lalu, pihaknya langsung mengambil langkah cepat memulihkan kondisi keamanan serta pencegahan agar konflik tidak meluas dan mengarah ke SARA.

“Jangan sampai terjadi konflik horizontal yang juga mengarah ke SARA,” kata Benhur kepada wartawan di Jayapura, Rabu 2 Oktober 2019.

Baca juga: Wamena Surga Kecil yang Dikirim Tuhan untuk Satukan Semua Suku 

Upaya dilakukannya adalah lewat pendekatan dengan semua pihak. “Kita terus melakukan pendekatan-pendekatan dengan tokoh-tokoh agama, paguyuban-paguyuban, dan saya mengimbau mereka harus menahan diri,” ujar Benhur.

“Berikan kepercayaan kepada aparat keamanan untuk memberikan rasa aman dan nyaman di Papua, khususnya di Kota Jayapura dan Kota Wamena.”

Selain melakukan pendekatan dengan para tokoh dan paguyuban, Benhur juga mengimbau masyarakat bersikap anti terhadap berita bohong atau hoaks yang bisa mengancam kerukunan.

Kemudian meminta masyarakat tidak melakukan unjuk rasa di Jayapura, sebagaimana maklumat Kapolda Papua, karena dikhawatirkan akan anarkis.

“Saya minta warga kota menaati ini dan tidak lagi melakukan demo-demo sehingga menimbulkan demo yang anarkis seperti yang terjadi pada 23 (September) di (Expo) Waena,” kata Benhur.

Baca juga: Kisah Dramatis Warga Sampang Selamatkan Diri dari Amukan Massa di Wamena 

Ia mengatakan masyarakat Kota Jayapura trauma dan ketakutan dengan kerusuhan seperti yang terjadi pada 29 Agustus serta 23 September. Kondisi yang sudah aman dan nyaman sekarang jangan sampai terusik lagi karena ulah segelintir oknum.

“Mari kita hidup berdampingan sebagai warga Indonesia yang baik karena kita bersaudara,” ujarnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua juga mengajak semua pihak menjaga kerukunan antaragama, suku, dan ras di Papua yang sudah terjalin sejak lama agar Bumi Cenderawasih tetap aman serta damai. Kerukunan ini jangan sampai terkoyak oleh hoaks atau provokasi untuk kepentingan sesaat.

“Saudara kita di luar Papua dan di Papua adalah satu keluarga, mesti kita menjaga,” kata Ketua MUI Papua KH Saiful Islam al Payage.

Baca juga: Cerita Warga Blitar Tentang Kondisi Mengerikan saat Kerusuhan di Wamena Papua 

“Di Papua ini sudah banyak sekali saudara-saudara kita asal dari mana pun lahir besar di sini, bahkan tidak mau pulang ke luar daerah, bekerja di sini, mengabdikan diri dan jiwanya di sini. Kerukunan yang sudah terjalin ini jangan sampai hoaks dan kepentingan-kepentingan sesaat memecah belah kerukunan yang sudah terjalin.”

Saiful meminta hentikan sebutan-sebutan yang menyinggung SARA. “Kita mesti setop bicara orang asli Papua dan pendatang. Kita istilah seperti ini mesti hentikan mulai detik ini,” ujar dia.

Baca juga: Setop Pakai Istilah Orang Asli Papua dan Pendatang, Kita Bersaudara! 

ori