PURWAKARTA – Pencemaran di Sungai Citarum jadi salah satu fokus Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) untuk ditangani. Pencemaran di sungai terpanjang di Jabar ini rupanya sempat masuk ke dalam level yang memprihatinkan.

Selain dari penggundulan hutan di wilayah hulu, pencemaran sungai juga disebabkan oleh banyaknya limbah yang dibuang langsung ke sungai. Parahnya, salah satu pencemaran terbanyak berupa limbah kotoran sapi.

Pencemaran paling banyak terjadi di wilayah Lembang, Bandung Barat. Daerah ini memang terkenal akan produksi susu sapinya. Tercatat ada sekira 22.300 sapi di daerah Lembang pada 2018 yang tersebar di sembilan desa di Kecamatan Lembang.

Ilustrasi

Ironisnya, dari jumlah sapi tersebut hanya sekira 20 persen kotoran sapi yang tertangani menjadi kompos dan energi terbarukan. Sisanya, dibuang ke sungai.

Jika satu sapi dalam sehari bisa mengeluarkan sekira 10 kilogram kotoran dalam sehari, maka kotoran sapi yang dihasilkan bisa mencapai 220 ton. 20 persen, atau 40 ton kotoran sapi tersebut dibuat oleh beberapa pihak sebagai kompos dan energi terbarukan. Sedangkan 180 ton kotoran sapi pada akhirnya dibuang ke sungai.

Citarum

Melihat hal tersebut, Perum Jasa Tirta II mengklaim pihaknya sejak 2016 sudah melakukan sederet program untuk mengurangi limbah kotoran sapi tersebut. Bahkan, Program Konservasi Sungai melalui aplikasi biogas dari kotoran hewan mendapat pengakuan dunia internasional dalam ajang ASEAN Renewable Energy Project Award 2019 di Bangkok, Thailand pada Rabu 4 September 2019.

Direktur Utama Jasa Tirta II U. Saefudin Noer, mengungkapkan biogas kotoran sapi yang diusung bersama Yayasan Rumah Energi mendapat anugerah 2nd Runner Up dalam kategori Thermal Off-grid Renewable Energy, dan satu-satunya proyek EBT dari Indonesia yang mendapat penghargaan pada ajang tersebut.

Program tersebut, jelas Saefudin, di mulai pada tahun 2016, Jasa Tirta II mencetuskan proyek konservasi sungai melalui pemanfaatan biogas bersama Yayasan Rumah Energi dengan konsep Pemberdayaan Masyarakat.

“Melalui proyek tersebut, limbah kotoran sapi yang semula dibuang ke sungai dialihkan menjadi biogas sehingga masyarakat menikmati energi gas yang dapat digunakan untuk memasak dan penerangan rumah, serta produk lain yaitu pupuk, bio-slurry dan ternak cacing,” jelasnya.

Program Konservasi Sungai dengan Biogas, jelas Saefudin, selain memberikan dampak pada peningkatan kualitas air sungai Citarum, juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi para peternak. Peternak mendapatkan manfaat dan keuntungan dari keberadaan biogas untuk akses energi yang digunakan sebagai bahan bakar masak dan penerangan.

Foto: Okezone/Asep Mulyana

“Petani sapi mendapat keuntungan berupa penghematan karena konversi dari LPG ke Biogas, juga pupuk dan hasil ternak cacing dari bio-slurry. Jadi masyarakat terlibat dalam pemeliharaan sumber daya air dan kedaulatan energi,” ucap Saefudin.

Penghargaan River Conservation with Renewable Energy diterima oleh Direktur Executive Yayasan Rumah Energi, Rebekka S. Angelyn dan Kepala Divisi Pengelolaan Proyek Jasa Tirta II Dadang Hidayat. Hadir pada kesempatan tersebut pemenang dari berbagai Negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam.

ASEAN Energy Awards merupakan penghargaan tertinggi di Asia Tenggara untuk keunggulan di bidang energi. Penghargaan ini diharapkan menjadi instrumen untuk mempromosikan teknologi batubara bersih (CCT), efisiensi energi, dan pengembangan energi terbarukan serta berkontribusi terhadap keberlanjutan energi.


ori