PEREMPUAN dengan status janda sering jadi bahan cibiran masyarakat karena dianggap buruk. Dari mulai perkataan langsung hingga kemunculan meme-meme di media sosial, yang berkaitan dengan kehidupan janda.

Padahal, jika Anda melakukan hal itu kepada janda, artinya Anda menstigma atau bahkan menghina mereka. Begitu juga dengan pemberian label janda kepada perempuan yang tak bersuami. Bisa-bisa menyakiti hatinya lho!

Psikolog Meity Arianty menjelaskan, fenomena pemberian label, stigma, atau apapun sebutannya kepada janda, pasti sulit dihapus dengan mudah. Sama hal dengan label “autis” yang sering diperuntukkan kepada orang yang lebih suka sendirian, tidak punya teman, dan lebih memilih membaca buku dibanding jalan dengan teman-temannya.

“Sampai akhirnya muncul pemberitahuan bahwa dilarang menggunakan kata autis dengan mudahnya. Hal itu cukup lama disosialisasikan loh. Untuk menyadarkan masyarakat juga tidak mudah,” ucap Mei saat dihubungi Okezone, Minggu (29/9/2019).

Hal ini juga terjadi pada kemunculan meme-meme janda atau menstigmanya.

Hal ini juga terjadi pada kemunculan meme-meme janda atau menstigmanya. Sebenarnya hal itu tidak bisa disalahkan, karena mengacu pada perempuan yang bercerai atau ditinggal suami, seperti dalam KBBI.

Nah, yang menjadi tidak benar dan meresahkan adalah karena kata janda itu identik dengan hal yang negatif, norak dan menyakitkan. Harus dilihat mengapa ini terjadi ?

Menurut Mei, salah satunya karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang banyak janda di luar sana, yang punya imej positif dan terhormat. Artinya dari munculnya meme atau stigma, janda selalu dinilai rendah dan label imej negatif oleh oknum.

“Kita enggak bisa melarang masyarakat memberi label atau stigma, karena rendahnya pengetahuan atau piciknya pemikiran mereka,” tuturnya.

Maka, sambung Mei, perlu dilakukan psikoedukasi ke masyarakat. Bahwa perilaku membuat meme-meme dengan konten merendahkan dan melecehkan, merupakan bentuk lain dari penghinaan sesama manusia.

Apa untungnya bagi yang membuat meme-meme negatif seperti itu?

“Apa untungnya bagi yang membuat meme-meme negatif seperti itu? Paling hanya kepuasan sesaat. Buat apa kalau kepuasan diperoleh dengan menyakiti, melecehkan dan merendahkan orang lain. Mungkin ini bisa jadi bahasan pemikiran bersama,” pungkasnya.

ori