Mungkinkah kelinci menjadi sumber baru daging yang sehat bagi Afrika?

Para peternak di Afrika mencari solusi baru untuk memenuhi kebutuhan akan daging di benua itu. Populasi Afrika hampir dua kali lipat dalam 30 tahun mendatang, menjadi 2,5 miliar. Solusi, kata mereka, mungkin terletak pada kelinci.

Dalam 10 tahun ini, pemasok terbesar daging kelinci di Afrika Selatan telah menambah hampir 150 peternakan kelinci. Dan peternak baru-baru ini menciptakan jenis Afrika Selatan, Phendula, yang diterjemahkan menjadi “jawaban.”

Petani independen Gavin Grgurin memelihara 500 kelinci di peternakannya di luar Johannesburg. Menurutnya, kelinci adalah daging masa depan.

“Sebagai Dewan Nasional, kami telah mengatakan selama 12 hingga 15 tahun terakhir bahwa kelinci berpotensi menjadi penyelamat Afrika dari sudut pandang protein. Banyak alasan untuk itu,” paparnya.

Pertama, kata Grgurin, daging kelinci tinggi protein dan rendah lemak dan kolesterol. Mereka tidak banyak membutuhkan ruang dan tidak makan banyak.

Kelinci membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan ayam, dan memproduksi lebih sedikit limbah daripada sapi. Kelinci, kata Grgurin, mungkin daging yang paling ramah lingkungan.

“Ada banyak hal negatif yang saat ini terjadi akibat dampak karbon di planet ini, khususnya di sekitar peternakan dalam skala besar. Maksud kami adalah hewan ternak dan sapi yang dimasukkan ke tempat pemberian makan. Jadi, terdapat jejak karbon besar di sana. Jejak karbon kelinci sangat minim dibandingkan dengan yang lainnya.”

Dan terakhir, menurut Grgurin, kelinci berkembang biak, seperti, yah …kalian tahu sendiri.

Tetapi bisakah kelinci beralih dari hewan peliharaan menjadi makanan?

Sementara populasi Afrika hampir dua kali lipat pada tahun 2050, pasokan pangan – terutama protein – menjadi keprihatinan utama. Apakah kelinci bisa mengisi celah itu – dan jutaan perut? (ka/jm)

ori