Pak Salamun sudah curiga dirinya diduakan. Tapi masalahnya Bu Pawiti selalu membantah anggapannya itu. Gimana dong kalau nggak ada barbuk alias barang bukti.

Yuk kita baca lanjutan Ibu Memiliki Selingkuhan, Anak Tiri Jadi Pelampiasan tadi pagi ya. Cuuus!

Bahkan menantang, bila punya dua alat bukti cukup, laporkan saja ke KPK. Gitu saja kok repot! Ya mana ada KPK mau ngurusi korupsi cinta, wong korupsi uang negara saja tak pernah ada habisnya.

Merasa tak ada solusinya, Salamun jadi dendam pada istrinya. Tak ada termos di rumah, ”banyu kendi” lumayan jugalah. Apa itu banyu kendi versi Salamun? Maksudnya, tak ada istri anak tiripun jadi. Kebetulan anak tirinya juga dalam usia ABG, sehingga lumayanlah untuk penyelesaian lewat jalur independen.

Ternyata setan sangat mendukung gagasan Salamun. Maka anak tirinya yang sedang tidur sendirian langsung ditubruk dan diancam, jika tak mau melayani akan dibunuh.

Ya siapa nggak takut kehilangan nyawa? Maka dengan sangat terpaksa anak itu melayani kebuasan ayah tirinya. Ini terjadi sampai empat kali.

Sang istri sama sekali tak tahu kelakuan Salamun. Tahu-tahu perut putrinya menggelembung saja.

Di bawa ke bidan ternyata sudah dinyatakan positif hamil 4 bulan. Ditanya siapa pelaku rekayasa genetika itu, dijawab ayah sendiri, bla bla bla…… Tentu saja Pawiti marah besar, dan Salamun pun dilaporkan ke kantor polisi.

Dalam pemeriksaan Salamun tak mau menjawab bertele-tele, dijawab semua dengan jujur. Tapi katanya, semua itu wujud dari balas dendam atas kelakuan istrinya. Siapa tidak jengkel, di kala sedang kedinginan di malam hari, istri tak ada di rumah. Akhirnya anak tiri dijadikan pelampiasan.

Kalau termos tak di tempat, kan air sumur tinggal nimba. (gunarso ts)

ori