BANGKOK – Kelompok garis keras Budha di Thailand melaporkan seorang seniman wanita ke polisi terkait beberapa lukisannya yang menggambarkan sosok Budha sebagai superhero Jepang Ultraman. Laporan itu diajukan setelah keempat lukisan yang dianggap kontroversial oleh kelompok-kelompok Budha ultra-konservatif itu dipajang di sebuah pusat perbelanjaan di timur laut Thailand pekan lalu.

Agama Budha, dianut oleh lebih dari 90 persen warga Thailand, adalah salah satu dari tiga pilar tradisional masyarakat Thailand, di samping negara dan monarki.

Lukisan-lukisan itu telah diturunkan dari pameran pekan lalu dan seniman pelukisnya, seorang mahasiswa tahun keempat yang namanya telah dirahasiakan untuk keselamatannya, harus secara terbuka meminta maaf kepada biksu kepala Provinsi Nakhon Ratchasima, timur laut Thailand, di depan gubernur provinsi.

Di masa lalu, masalahnya akan selesai sampai di sana. Akan tetapi, pada Rabu kelompok garis keras Budha, Power of the Land mengatakan pihaknya telah mengajukan laporan polisi terhadap seniman tersebut dan empat lainnya yang terlibat dalam pameran itu, dengan alasan bahwa membandingkan Buddha dengan figur aksi adalah tindakan yang tidak sopan.

Kelompok itu menginginkan kelima orang tersebut dituntut berdasarkan hukum yang melarang penghinaan terhadap agama dengan ancaman penjara maksimal tujuh tahun.

“Lukisan-lukisan itu memalukan dan menyinggung umat Buddha dan merusak harta nasional,” kata wakil Buddha Power of the Land, Charoon Wonnakasinanone kepada Reuters, Kamis (12/9/2019).

Kelompok itu juga ingin lukisan tersebut dihancurkan.

Di bawah hukum Thailand, polisi harus menyelidiki pengaduan dan merekomendasikan apakah ada alasan untuk mengajukan tuntutan pidana, suatu proses yang biasanya memakan waktu setidaknya tujuh hari.

Otoritas resmi Budha Thailand menentang tuntutan kriminal terhadap seniman tersebut.

Pongporn Pramsaneh, direktur Kantor Buddhisme Nasional Thailand, mengatakan kepada Reuters bahwa ia menganggap masalah itu ditutup setelah permintaan maaf publik.

“Siapa pun yang ingin mengambil tindakan hukum, kami tidak akan terlibat,” kata Pongporn.

Seniman yang bersangkutan tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar, dan pusat perbelanjaan yang mengadakan pameran menolak memberikan komentar.

Kontroversi itu telah mengangkat profil untuk lukisan tersebut. Semua lukisan tersebut dilaporkan telah dijual pekan lalu.

Salah satu pembeli kemudian melelang lukisannya untuk amal, dan menjualnya seharga 600.000 baht (sekira Rp276 juta).


ori