SAMPAI sekarang masih tidak bisa melepaskan hobi gonta-ganti pasangan? Padahal sudah tahu risiko apa yang bakal didapatkan, maka Anda sejatinya siap dengan kematian. Sebab, suka berganti pasangan dan melakukan hubungan seksual tidak sehat berisiko tinggi terkena penyakit seksual mematikan.

Seperti yang dijelaskan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Ari Fahrial Syam, SpPD, mereka yang menerapkan seks bebas sangat berisiko berbagai penyakit seksual mematikan, terutama Human Immunodeficiency Virus (HIV).

“Pengalaman klinis saya sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam mendapatkan, pasien dengan HIV terjadi pada semua kalangan. Penyakit ini bisa mengenai semua profesi, ibu rumah tangga (IRT), bahkan yang tidak gonti-ganti pasangan pun menderita HIV karena mungkin tertular dari pasangannya yang suka “jajan” di luar,” terang dr Ari pada Okezone, Senin (9/9/2019).

Dokter Ari coba memberi gambaran kasus, perempuan muda ‘baik-baik’ yang akan menikah, bisa menderita HIV. Kemungkinan besarnya tertular dari mantan pacarnya yang menggunakan narkoba di mana saat pacaran sewaktu duduk di bangku SMA dulu pernah berhubungan seks beberapa kali.

HIV

Berdasarkan pengalaman ini, untuk memastikan apakah seseorang menderita HIV/AIDS, dr Ari menjelaskan, dirinya tidak akan melihat status sosial pasien tersebut walau sehormat apa pun status sosial pasien itu.

Lebih lanjut, perselingkuhan atau gonta ganti pasangan sepertinya sesuatu hal yang berjalan lumrah. Dari sudut agama jelas, hubungan seks di luar pernikahan merupakan zina dan amal ibadah orang yang melakukan zina tidak diterima selama 40 tahun.

Sementara itu, dari sudut kesehatan, gonta-ganti pasangan berisiko penyakit mematikan. Kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD). Untuk para perempuan yang gonta-ganti pasangan selain penyakit STD tadi juga berisiko terjadinya kanker mulut rahim, sedangkan untuk laki-laki, gonta-ganti pasangan akan menambah risiko dirinya menderita kanker prostat.

“Saya masih ingat ketika seorang pasien laki-laki muda datang kepada saya karena menderita infeksi kencing nanah (GO) setelah berhubungan dengan perempuan ‘baik-baik’. Sang pasien tidak habis pikir perempuan yang disangka ‘baik-baik’ tersebut ternyata menularkan kencing nanah kepada dirinya,” ceritanya. Klik halama selanjutnya untuk info penyakit seksual lebih lanjut.

Saat itu, sambung dr Ari, dirinya menyampaikan kepada pasien tersebut kalau penyakit kelamin tidak mengenal status sosial pasien yang mengalami penyakit kelamin tersebut. Siapa pun yang doyan gonta ganti pasangan dan berhubungan seks, dia berpotensi menularkan penyakit yang didapat dari pasangan seks sebelumnya.

Pasien dengan HIV positif atau dengan hepatitis B atau C sama dengan orang normal tanpa infeksi virus tersebut. Ketiga penyakit virus ini merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang membedakan satu dengan yang lain adalah bahwa di dalam darah pasien dengan HIV atau pasien dengan hepatitis B atau C mengandung virus tersebut sedang yang lain tidak.

“Secara fisik tidak dapat dibedakan siapa yang di dalam tubuhnya mengandung virus yang sangat berbahaya tersebut. Oleh karena itu, saat kita berhubungan seks dengan seseorang yang bukan istri kita maka kita sudah berisiko untuk mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan,” tegas dr Ari.

Fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung selama 5-10 tahun sampai mereka mempunyai gejala. Oleh karena itu, dr Ari sering mendapatkan pasien yang mengalami HIV/AIDS saat ini dan menduga tertular pada saat 5 atau 10 tahun yang lalu karena mereka menyampaikan setelah menikah 5 tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain kecuali kepada istri atau suami sahnya saja.

Fakta penyakit menular seksual

 Ilustrasi penyakit seksual

Kita tahu bahwa penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit yang berbahaya dan mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus “Human Immunodeficiency Virus” (HIV), yang sampai saat ini vaksin established yang dapat digunakan secara luas belum ditemukan. Meski begitu, obat anti retroviral (ARV) yang ada saat ini sudah mampu menekan jumlah virus sampai tidak terdeteksi.

Bukti klinik membuktikan bahwa pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih 90 persen. Di Indonesia, ARV saat ini masih gratis dengan akses mudah untuk mendapatkannya. Meski begitu, saat ini angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah. Pasien-pasien HIV yang tidak mau mengkonsumsi ARV beralasan; lebih baik saya segera meninggal dunia.

Gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun. Berbagai infeksi oportunistik akan muncul seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit, atau berupa timbul hitam-hitam di kulit.

Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini mengalami penurunan berat badan. Hasil pemeriksaan laboratorium pasien terinfeksi HIV lanjut, jumlah lekosit mereka akan kurang dari 5000 dengan limfosit kurang dari 1000. Diare kronik, sariawan di mulut, dan penurunan berat badan yang drastis merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan sudah masuk fase AIDS.

Pencegahan penyakit menular seksual

Membahas persoalan ini, dr Ari menerangkan kalau cara paling mudah adalah stop gonta-ganti pasangan dan stop berselingkuh yang dibumbui seks bebas.

Perlu ditegaskan di sini, siapa saja yang pernah melakukan hubungan seksual, terutama hubungan seksual di luar nikah dan pernah menggunakan jarum suntik yang tidak steril, atau pernah menggunakan narkoba jarum suntik dianjurkan untuk memeriksa status HIV-nya. Sebab, semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus (ARV) semakin cepat menurunkan jumlah virus dan mengurangi potensi penularan.

“Tentu pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut,” singkat dr Ari.

Dia melanjutkan, gonta-ganti pasangan bukan merupakan budaya tapi merupakan kebiasaan dan tentunya kebiasaan buruk. Risiko gonta-ganti pasangan bukan saja pada prianya tapi juga perempuan.

Ketika seorang perempuan dirayu oleh uang dan harta dan mengikuti keinginan naluri seks yang memberi uang, sebenarnya para perempuan tersebut juga sudah berisiko untuk tertular penyakit dari laki-laki tersebut. Begitu pula sebaliknya, ketika si pria berhubungan dengan perempuan yang mudah diraih dengan rayuan uang atau harta, laki-laki tersebut juga harus sadar, mungkin perempuan tersebut baru saja jatuh dari pelukan laki-laki lain yang belum jelas status HIV-nya.

“Bagi yang belum terjebak dari kebiasaan gonta-ganti pasangan ini, sebaiknya tidak berhubungan seks sebelum menikah dan tetap setia dengan satu pasangan agar tidak terjebak dalam lingkaran setan yang berisiko penyakit mematikan walau kesenangan tersebut dapat diraih dengan mudah,” tambah dr Ari.

ori