Bursa saham AS anjlok, Rabu (14/8), setelah indikator utama ekonomi menunjukkan kemungkinan terjadinya resesi dalam setahun ke depan.

Indeks Dow Jones jatuh 800 poin, atau tiga persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga rontok tiga persen, dan bursa saham di Eropa turun tajam.

Kata para analis ini disebabkan lemahnya perekonomian Jerman dan China yang menunjukkan tanda-tanda bahwa perekonomian dunia sedang melambat. Tapi yang lebih meresahkan adalah apa yang disebut para pakar sebagai “yield curve inversion” atau berbaliknya kurva imbal hasil obligasi (surat utang) pemerintah AS.

Dalam keadaan normal, tingkat suku bunga obligasi pemerintah untuk jangka panjang akan lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah jangka pendek.

Tapi apa yang terjadi pada Rabu dilihat oleh para analis sebagai tanda bahwa para investor khawatir akan keadaan perekonomian Amerika saat ini.

Ini adalah pertama kalinya terjadi penurunan tingkat suku bunga obligasi pemerintah jangka panjang sejak 2007, ketika perekonomian Amerika memasuki masa resesi terburuk sejak resesi besar tahun 1930-an.

Jutaan para pekerja Amerika kehilangan pekerjaan dalam resesi yang terjadi mulai tahun 2008 itu. Jutaan orang kesulitan membayar cicilan rumah sehingga rumah mereka disita oleh bank.

Kata para pakar turunnya suku bunga surat berharga negara itu itu selalu terjadi menjelang sembilan resesi Amerika yang terjadi dalam enam dasawarsa terakhir. Tapi, tambah mereka, turunnya suku bunga itu bukan indikator yang pasti akan terjadinya resesi. Pada 1966 hal yang sama terjadi, tapi tidak ada resesi. [ii/pp]

sumber